Cari Uang Cara Komodo

Cari Uang Cara Komodo – Jawapos 7 November 2011

Sulit bagi orang-orang lama memahami cara mahluk dunia maya mencari uang. Begitu sulitnya sampai bangsa ini terpecah gara-gara urusan komodo. Seperti dukun kesulitan menangkap tuyul dari alam goib, dubes kita di Swiss juga kesulitan mencari alamat resmi The New Seven Wonders (NSW). Kata penjual tuyul, diajak jalan saja tuyul pun harus dibuatkan oppoinment lebih dulu. Nah begitulah NSW yang alamatnya hanya ada di dunia maya. Pak dubes terbelalak, kantornya ternyata cuma museum sepi, sedangkan di dunia maya keren dan penuh warna.

Mahluk dunia maya memang mencari duit dengan cara yang aneh bagi kita. Anda tentu tak kebayang bagaimana Tune hotel di Bali dipasarkan dengan tarif kamar Rp 28 semalam. Kita sering tak berpikir bagaimana mungkin Facebook, Yahoo, Google dan Wikipedia bisa eksis padahal servisnya gratis. Anda yang biasa menonton Bintang Televisi dan Radio tahun 1980-an tentu menolak Indonesian Idol yang dasar kemenangannya jumlah kiriman SMS. Juga tak terbayang tetangga sebelah tiba-tiba bergelar Profesor Doktor. Kapan kuliahnya dan apa benar dia berilmu?

Dan banyak eksekutif bisnis terheran-heran membaca sebuah konsultan di Jakarta memberi Award perusahaan yang “sedang sakit” sebagai “the best brand” bahkan “the best company of the year”. Bagaimana bisa? Wong keuangannya sedang susah, pelanggannya sudah kabur dan bisnisnya mau mati.

Seperti itu pulalah cara NSW mencari uang. Kebenaran di dunia maya tak bisa diukur dengan kebenaran di dunia riil. Pusing, sarat masalah etika, bisa menimbulkan perpecahan, bahkan kebencian di antara kita. Apalagi kalau lembaga resmi di dunia, maksud saya pemerintah, sedang amburadul. Makin kacaulah hidup ini.

Surat Ancaman

Melalui media international saya mengetahui objective NSW adalah melakukan update terhadap Tujuh Keajaiban Dunia dengan menggunakan cara-cara modern. NSW juga men-declare bahwa mereka tak dibiayai pembayar pajak. Uangnya didapat dari donasi, sponsor perusahaan dan stasiun televisi yang mendapat hak siaran. Itu sebabnya, pada awal berdiri di tahun 2001 ia didukung oleh badan resmi PBB, UNESCO. Tetapi pada tahun 2007, tak lama setelah lembaga ini melakukan seremoni pengukuhan Tujuh Bangunan Kuno warisan peradaban masa lalu di Lisabon, UNESCO menarik diri.

Saya membaca, penyebabnya karena NSW menyelewengkan objektifnya dengan memeras negara-negara anggota PBB untuk mencari uang dengan metode popular vote. Mereka bahkan mengabaikan validity. Bagaimana mungkin misalnya, 7 juta penduduk Jordan memberi votes sebanyak 14 juta untuk bangunan bersejarahnya di lembah Petra? Akibatnya Candi Borobudur dan Piramida di Mesir yang masuk dalam daftar Unesco tercoret. Saya heran juga tak ada pejabat Indonesia yang protes saat itu, padahal di Mesir jutaan orang marah besar pada NSW karena Piramid nya dicoret dari daftar finalis Tujuh Keajaiban dunia. Baru setelah diprotes keras, NSW memasukkan Piramid Giza sebagai The Honorary of NSW Candidates.

Menurut berbagai literatur, NSW adalah poll terbesar di dunia maya dengan 100 juta votes, namun juga paling tidak kredibel karena membiarkan seseorang memilih berkali-kali. Itu sebabnya di setiap negara finalis, para kepala negara (termasuk SBY dan JK di sini) turun memimpin perolehan suara. SBY-JK beserta ibu negara melakukannya saat peresmian bandara Lombok pada kabinet yang lalu. Respons negara-negara terhadap poll SMS dan internet NSW memang amat beragam, mulai dari ikut berkampanye sampai menolak dan mengkritik habis. Yang jelas potensi rusuh dan konfliknya sangat besar.

Lantas apa kontoversinya? Sudah pasti uanglah. Tanggal 27 Oktober 2010 direktur NSW mengirim surat rahasia pada kantor kementrian pariwisata yang mengatakan Jakarta akan ditunjuk sebagai Lokasi Deklarasi resmi. Namun untuk itu pemerintah harus terlibat, dan bekerjasama dengan sebuah EO Jakarta yang sudah ditunjuk NSW. Tampak sekali logika surat yang dikirim sangat bertahap, dimulai dari iming-iming kabar gembira yang membuat aparat di Jakarta kegirangan sampai kewajiban yang harus dipenuhi, lalu ancaman kalau tidak patuh.

Sementara antusias warga Indonesia pun bergerak cepat. Tak peduli pulsanya disedot seribu rupiah atau lebih, mereka marah besar saat dikabarkan komodonya hampir kalah dengan kadal air Malaysia. Padahal kalau orang Indonesia sedikit lebih kritis dan mau membuka situs NSW disana tampak jelas Komodo tak disandingkan dengan Kadal Malaysia. Entahlah siapa yang menebar hoax itu, tapi motifnya sangat jelas, dapat uang dari pulsa.

Tanggal 6 Desember 2010 ternyata NSW makin mengerucut, mengirim surat bahwa event itu tidak gratis. Pemerintah Indonesia harus bayar licence fee sebesar US$7 juta. Lalu berubah lagi menjadi $ 10 juta. Saya tak tahu apa jawaban pemerintah kita, tapi dari dokumen-dokumen rahasia, saya membaca NSW mulai mengirim surat-surat ancaman. Surat tertanggal 24 januari 2011 itu ditandatangani oleh Stefanie Mitterer (Koordinator Kepala NSW) yang mengatakan kalau dalam 7 hari tidak merespons, Komodo dari Indonesia akan dicoret dari daftar finalis NSW of the Nature. Setelah itu saya mendengar lagi untuk event itu sendiri pemerintah diminta menyediakan dana sebesar US$ 45 juta.

Hebat juga NSW ini mencari uang. Tentu NSW tahu orang rakyat Indonesia sedang butuh kemenangan sebab SeaGames besok saja persiapannya sangat amburadul. Selain badminton, sepakbola kita juga selalu kalah. Mereka juga tahu pemimpin-pemimpin kita mudah diajak konflik dan sebagian orang mudah diajak berkhianat kalau dijanjikan uang. Rakyatnya juga sedang suka bicara, apalagi kalau diberi harapan sedikit. Jadi kalau diancam pasti mudah marah, dan ujung-ujungnya kita akan membayar kalau terpojok dan ketakutan seperti yang dilakukan terhadap pada para pembajak Somalia terhadap perusahaan pelayanan nasional yang kapalnya dibajak. Gabungan dari miskinnya rasa percaya diri, mudah diajak konflik, serta orang-orang tak kritis membuat pihak asing yang culas mudah dapat uang di sini.

NSW sendiri sepertinya tahu caranya mendapatkan uang kita. Di websites nya mereka mengaku tak menerima uang dari pembayar pajak atau negara. Tapi di sini mereka meminta uang pada pemerintah. Kita juga tak tahu persis kalau kita menang itu benar karena kita menang atau karena manipulasi angka seperti cara para konsultan pemasaran melakukan pemasaran jasanya dengan memberi award abal-abal di sini. Lagi pula kalau menangnya karena yang votes bangsa dewek, apakah pasti akan meningkatkan kunjungan turis asing ke sini. Saat ini saja bandara kita sudah kewalahan mengatur trafik penerbangan. Landas pacu di bandara Cengkareng hanya dua, padahal terminalnya sudah ada tiga. Sedangkan di banyak daerah, air traffic control hanya bekerja sampai pukul 6 sore. Hotel dan jalan masih terbatas, belum lagi rumah sakit internasional. Kalau voters komodonya mayoritas voters lokal, maka harap maklum pengunjung lokal di Candi Borobudur, makam para Wali di Jawa dan pantai-pantai di Pulau Bali saja saat ini sudah sulit ditampung saat liburan.

Jadi NSW ini mau bantu pemasaran pariwisata atau hanya suka uang kita? Kalau yang pertama, ya teruskan saja. Bahkan tanpa NSW pun lakukan saja promosi. Tapi melihat gelagat bahwa yang kedua yang mereka incar, mari kita siapkan mental yang lebih besar, yaitu siap dicoret. Bersiaplah bangsaku untuk kembali menerima kenyataan pahit bahwa taman nasional pulau komodo kita dinyatakan kalah oleh NSW, bukan karena kurangnya SMS, melainkan karena ada kepala negara bangsa lain yang berani bayar lebih besar. Begitulah cara mahluk dunia maya mencari uang.

Maka berhentilah bertengkar, dan tetaplah promosikan Komodo ke manca negara dengan cara yang lebih cerdas dari uang yang terbatas. Kita adalah bangsa yang malas bayar pajak, tapi tak ada masalah kalau harus bayar pulsa. Di situlah letak kecerdasan pengusaha dunia maya mencari uang. Piss!!, kata anak-anak dan mahasiswa saya.

Rhenald Kasali

Guru Besar Universitas Indonesia
sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s